WELCOME TO MY BLOG

Sabtu, 02 April 2011

LP Penyakit Jantung Koroner

1.KONSEP MEDIS
A.DEFENISI
Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah keadaaan dimana terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan otot jantung atas oksigen dengan penyediaan yang di berikan oleh pembuluh darah koroner.
Ketidakmampuan pembuluh darah koroner untuk menyediakan kebutuhan oksigen biasanya diakibatkan oleh penyumbatan atheroma (plak).

B.ETIOLOGI
•Atheroma a. coronaria ( paling banyak )
•Stenosis muara a. coronaria ( syphilis )
•Polyarteritis nodosa
•Emboli a. coronaria
•Spasme a. coronaria
•Hipertensi pulmonal
•Hipertensi arterial
•AS, MS, PS
•Cardio miopati hipertropik

C.FACTOR RESIKO
a.FRK yang tidak dapat dicegah :
Umur, Gender : pria > wanita pre-menopause, Riwayat keluarga menderita serangan jantung dini
b.FRK yang dapat dicegah :
•Mayor : Dislipidemia, Merokok, Kegemukan, Hipertensi Diabetes mellitus
•Minor : Stress, Sedentary living, Hiperurikemia, Kelainan iskemi (EKG), Cuaca dingin, Tipe kepribadian A, Aktivitas fisik ¯, Pil konstrasepsi, Kopi, Alkohol, dll

D.PATOFISIOLOGI
Adanya thrombosis arteria koronaria yang menyebabkan terjadinya penyumbatan. Dalam 20 s/d 30 menit pasca oklusi arteri koronaria akan menyebabkan nekrosis jaringan jantung, ditunjang dengan terjadinya peningkatan tekanan intramural sehingga menyebabkan aliran darah yang masuk semakin terganggu. Umumnya terjadi di daerah regiio subendokardium. Setelah 3 s/d 6 jsm maka infark telah mencapai ukuran penuh.

E.MANIFESTASI KLINIK
o Nyeri dada susternum yang parah, terasa seperti menekan, menyebar ke leher, rahang, epigastrium, bahu / lengan kiri.
o Biasanya didahului dengan serangan angina pectoris
o Nadi cepat dan lemah
o Diaphoresis
o Kadang timbul sesak akibat gangguan kontraktilitas miokardium yang iskemik
o Pada MI massif yang mengenai 40% ventrikel kiri bisa timbul syok kardiogenik

F. KOMPLIKASI
 Aritmia jantung (75 – 95 %)
 Gagal ventrikel kiri disertai edma paru (60 %)
 Syok kardiogenik (10 %)
 Rupture dinding, septum / otot papilaris (4-8 %)
 Tromboembolus (15-49 %)
 Kematian mendadak (25 %)

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Gambaran EKG menunjukan perubahan gelombang Q, kelainan segmen ST, inverse gelombang T.
 Evaluasi laboratorium menunjukan peningkatan CK yang setelah 3-4 jam MI dan memuncak pada 24 jam dan kembali normal setelah 72 jam, peningkatan kadar Troponin sampai 4-7 hari.
 Foto Toraks à kalsifikasi koroner, gagal jantung
 Ekokardiografi
 Angiografi koroner

H. PENATALAKSANAAN
1. Tindakan Umum
 Istirahat total (bed rest)
 Sebaiknya di rawat di ICCU
 Oksigen
 Obat Penenang (tranquilizer dll)
 Morfin atau Petidin bila nyeri sekali
2. Farmakologis / Medikamentosa
a. Obat Anti Iskemia: Nitrat, Penyekat Beta, Antagonis Kalsium.
b. Obat Anti Agregasi Trombosit: Aspirin, Tiklopidin, Klopidogrel, Glikoprotein IIb/IIIa Inhibitor.
c. Obat Anti Trombus: Streptokinase, Heparin

3. Non-Farmakologis
 Perubahan gaya hidup (life-style)
 Berhenti merokok
 Penurunan BB
 Olahraga teratur
 Penyesuaian diet, dll

4. Revaskularisasi
 PTCA (Percutaneus Transluminal Coronary Angioplasty): Balon atau Stent
 CABG (Coronary Artery Bypass Graft)


2. ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
 Keluhan Utama yang meliputi Nyeri Dada, Sulit Bernapas, Pingsan,
 Dasar data pengkajian pasien:
a. Aktifitas: kelemahan, kelelahan, tidak bias tidur. Ditandai dengan takikardi, dispneu pada saat istirahat.
b. Sirkulasi: riwayat MI sebelumnya, masalah TD, DM diatandai dengan TD dapat normal/meingkat, irama jantung normal/meningkat, pucat terutama pada mukosa dan bibir, KRT tidak teratur
c. Integritas ego: takut mati, perasaan ajal sudah dekat, kuatir tentang keluarga, kerja, keuangan. Ditandai dengan cemas, kontak kurang, gelisah, focus pada diri sendiri,
d. Neurosensori: pusing, berdenyut selama tidur/saat bangun, ditandai dengan kelemahan dan perubahan mental.
e. Nyeri: nyeri dada yang timbul mendadak, tidak hilang dengan istirahat/nitrogliserin. Berlokasi pada dada anterior, substernal, prekordia, dapat menyebar ke tangan, rahang, wajah, leher, abdomen, punggung. Sifatnya menetap, tertekan. Ditandai dengan meringis, perubahan postur tubuh, menangis, merintih, meregang, perubahan frekwensi/irama jantung, TD, pernafasan, kelembaban, kesadaran.
f. Pernafasan: batuk dengan/tanpa sputum, riwayat merokok ditandai dengan peningkatan frekwensi nafas, pucat/sianosis.
g. Interaksi social: stress kerja/keluarga, kesulitan koping dengan stressor yang ada ditandai kesulitan istirahat dengan tenang, takut, menarik diri.
h. Penyuluhan: riwayat keluarga dengan IM, diabetes, hipertensi, Stroke, penggunaan tembakau
i. Pemeriksaan diagnostic: EKG menunjukan ST elevasi, CKMB memuncak pada 24 jam dan menurun setelah 72 jam, peningkatan kadar Troponin sampai 4-7 hari.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri (akut).
Dapat dihubungkan dengan: iskemik jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri koroner.
2. Intoleransi aktifitas
Dapat dihubungkan dengan: ketidakseimbangan suplai O2 miokard dengan kebutuhan
3. Ansietas
Dapat dihubungkan dengan: perubahan status kesehatan, ancaman kehilangan/kematian.
4. Risiko penurunan curah jantung
Dapat dihubungkan dengan: perubahan frekwensi, irama, konduksi elektrikal, penurunan preload, peningkatan tahanan vaskuler sistemik (TVS).


5. Risiko perubahan perfusi jaringan
Dapat dihubungkan dengan: penurunan aliran darah (vasokontriksi, tromboemboli)
6. Risiko hipervolume cairan
Dapat dihubungkan dengan: penurunan perfusi ginjal, peningkatan Natrium/retensi air.
7. Kurang pengetahuan tentang kondisi, kebutuhan pengobatan
Dapat dihubungkan dengan: kurang informasi tentang implikasi penyakit jantung dan status kesehatan akan dating, kebutuhan perubahan pola hidup.

C. RENCANA/INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Nyeri b/d…………………………….
a) Pantau karakteristik nyeri, catat laporan verbal/nonverbal, respon hemodinamik
 Variasi penampilan dan perilaku merupaka indicator peningkatan nyeri. Peningkatan pernafasan, nadi dan TD merupakan indicator nyeri meningkat.
b) Kaji ulang riwayat angina sebelumnya, menyerupai angina/nyeri IM. Diskusikan riwayat keluarga
 Pembanding dengan nyeri sekarang sesai dengan identifikasi penyebaran infark
c) Anjurkan pasien untuk melaporkan nyeri dengan segera
 Penundaan pelaporan menghambat peredaan nyeri sehingga dosis obat meningkat, kerusakan jaringan makin meningkat.
d) Ciptakan lingkungan yang tenang, aktifitas perlahan, tindakan nyaman
 Menurunkan rangsangan eksternal
e) Ajarkan dan bantu tehnik relaksasi seperti tehnik nafas dalam, distraksi dll
 Membantu dalam menurunkan persepsi/respon nyeri. Mengontrol situasi meningkatkan perilaku positif
f) Beri obat sesuai indikasi
 Kegunaan dan efek obat tergantung dari jenis obat yang diberikan.
2. Intoleransi aktifitas b/d…………………..
a) Tingkatkan istirahat baik di tempat tidur/kursi.
o Menurunkan kerja miokard/konsumsi oksigen dan menurunkan factor risiko komplikasi (perluasan MI)
b) Batasi pengunjung yang dating membesuk
o Periode kunjungan yang tenang bersifat teraupetik
c) Anjurkan pasien menghindari penekanan abdomen (mengedan)
o Aktifitas yang menyebabkan penahanan nafas dan menunduk (manuver valsava) mengakibtakan bradikardi, penurunan curah jantung,peningkatan TD dan takikardi.
d) Kaji ulang tanda yang menunjukan intoleran terhadap aktifitas
o Palpitasi, nadi ireguler, adanya nyeri dada, mengindikasikan kebutuhan perubahan program olah raga/obat.
e) Rujuk ke program rehabilitasi jantung
o Memberikan dukungan/pengawasan tambahan. Partisipasi proses penyembuhan.
3. Ansietas b/d…………………….
a) Identifikasi persepsi klien tentang ancaman/situasi. Dorong ekspresikan.
o Pasien dapat takut mati/cemas terhadap lingkungan, efek penyakit terhadap keluarga
b) Catat adanya kegelisahan (afek tidak tepat/menolak)
o Terdapat hubungan yang bermakna antara derajat /ekspresi marah, gelisah dengan peningkatan risiko MI.
c) Berikan informasi yang konsisten, ulangi sesuai indikasi
o Informasi yang tepat tentang situasi menurunkan ketakutan dan pengulangan informasi membantu penyimpanan informasi.
d) Berikan privasi untuk pasien dan orang terdekat
o Memungkinkan waktu untuk mengekspresikan perasaan, menghilangkan cemas dan perilaku adaptasi.
e) Berikan anticemas
o Meningkatkan relaksasi dan menurunkan rasa cemas.

Daftar Pustaka

Brunner & Suddarth, (2001), Buku ajar keperawatan medical bedah vol. 2, EGC. Jakarta

Doengoes, M. (2007). Rencana asuhan keperawatan; pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. EGC. Jakarta.

Robbins et al, (2007). Buku ajar patologi, Edisi 7. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta

Sudoyo et al, (2009). Buku ajar ilmu penyakit dalam, edisi V, jilid II. Interna Publisihing. Jakarta.

Wilkinson, J. M. (2006). Buku ajar diagnosis keperawatan; dengan intervensi NIC dan criteria hasil NOC. EGC. Jakarta.

0 comments:

Syahadatan

Anda Adalah Pengunjung Ke :

Menurut kamu...Apakah Perawat semuanya harus menguasai IT dan Bahasa Asing ( Bhs. inggris )

kompetisi Blog IT Ners

ITNCBC 2010
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Yahoo News: Top Stories








[
]

Terima Kasih






Template by - Usman ohorella - 2010 - layout4all